Wednesday, December 23, 2015

4 comments

My 2015 Recap: Books


Setelah sekian lama meninggalkan blog ini, di sinilah aku, nyoba nulis lagi! *lambai lambai tangan*

Berhubung ini sudah di penghujung 2015, sekali-sekali aku mau bikin recap (ikhtisar) dari tahun 2015. Walaupun Karl Sharro bilang kalo tahun baru adalah "The mass deception that the Gregorian Calendar can offer you hope of change and renewal.", tapi tetap saja tahun baru buatku terasa agak istimewa. Lumayan buat pengingat introspeksi diri.

Pembaca lama blog ini mungkin sudah tahu kalo aku orangnya gak update-update amat, jadi buku favoritku di tahun 2015 pun belum tentu buku yang terbitnya tahun 2015. Tapi pokoknya buku yang aku baca di tahun 2015 dan paling berkesan buatku.

Eh, aku belum bilang ya kalo ini postingan tentang buku favorit di 2015? Kan udah ada tuh di judul!

1. Good Omens - Neil Gaiman & Terry Pratchett


Ini buku kedua Neil Gaiman yang aku baca (yang pertama adalah Interworld) dan dari buku ini aku tahu why Neil Gaiman is such a big deal! Aku sudah nulis review buku ini di sini, silahkan di baca jika minat. Tapi pokoknya buku ini, beyond imagination. Ada maksud serius tanpa jadi serius. Suka! Suka! Suka!

2. Melihat Api Bekerja - M. Aan Mansyur

Seumur hidup, baru kali ini beli buku puisi. Dan langsung suka. Tertarik beli karena sekarang udah mudeng sama puisi dan sejak lama follow aku twitter sang penyair buku ini, @hurufkecil. Aku suka puisi-puisi kecilnya dalam 140 karakter twit. Dan pas baru-bari diterbitkan, buku ini muncul terus di timelinenya. Gak bisa disangkal bahwa promosi lewat sosial media emang ngaruh banget dalam penjualan suatu karya, apalagi karya selebtwit (bukan berarti aku bilang kalo kak Aan itu selebtwit, sih..). Akhirnya aku beli deh.

One word for this book: beautiful. Even beautiful is an understatement. Puisi kontemporer Kak Aan digabungkan dengan ilustrasi KEREN Kak Emte bikin aku ber-woahh-woahh di tiap halamannya. My review doesn't do justice. Beli deh, biar tahu sendiri.

3. The Girl with The Dragon Tatoo (TGWTDT) - Stieg Larsson


Rasanya aku pernah nulis tentang buku ini di sini...
This book opens my mind that thriller is like, my most favorite genre of book. Sebelumnya aku gak sadar. Padahal dari dulu suka baca manga Detective Conan (gak rajin sih) dan tahun ini juga mulai baca Agatha Christie.

Tapi buku ini nendang aku, ninju aku kanan kiri. Ngagetin! Tapi itu malah bikin aku suka. Selesai baca, aku gak bisa move on alias masih hangover gara-gara ini buku sampe kira-kira seminggu. Twist nya serem kacau. Tapi abis itu nagih pengen baca thriller lagi. Duh, thriller (fiction, red), I love you so.

4. Gone Girl - Gillian Flynn

Karena nagih thriller, akhirnya setelah TGWTDT aku baca buku yang filmnya juga hype nya di mana-mana ini (sebelumnya baca novel YA nya John Green dulu sih untuk meredakan suasana hati..).

Buku ini udah bikin penasaran, tebel pula! Jadi makin gemes bacanya. Apalagi pas baca endingnya. Duhhh tambah gemes pengen ngelabrak penulisnya. Selesai baca aku langsung heboh protes di twitter dan langsung ngechat temen soal ini. Oh iya buku ini juga udah aku review di sini, ya.

Gara-gara baca ini, aku jadi baca Dark Places juga, karya Gillian Flynn yang baru difilmin. Aku suka juga! Walaupun masih tetep Gone Girl yang paling berkesan.

5. Bakuman - Tsugumi Ohba & Takeshi Obata

Errr...sebenernya aku cuma punya 4 buku yang bisa dibahas di sini. Tapi aku gak suka kalo ada daftar (terutama bikinanku) yang nggak bulet, jadi digenapin jadi 5 deh sama Bakuman. #PentingAbis

Tapi memang manga ini sangat sangat berkesan juga buatku di tahun ini, sampe-sampe aku kumpulin semua jilidnya supaya bisa jadi warisan buat anak cucu~ (berarti aku emang beneran suka, soalnya aku pelit medit, apalagi kalo soal beli komik hahahah~).

Selain seru dan menghibur, cerita di tiap jilidnya selalu penuh passion dan semangat sampe bikin kita yang baca pasti pengen bikin kerja bikin karya yang keren juga!

Saturday, July 4, 2015

1 comments

Book Review: The 100-Year Old Man Who Climbed Out Of The Window And Disappeared


'The 100-Year Old Man Who Climbed Out Of The Window And Disappeared' by Jonas Jonasson
Genre: Fiction, Humor

Sinopsis:

Allan Karlsson tiba-tiba kabur dari jendela kamarnya di panti jompo. Padahal satu jam lagi akan diadakan pesta ulang tahun dirinya yang ke-100. Walikota sudah bersiap hadir di pesta itu dan akan nada banyak wartawan yang meliput. Usaha kaburnya adalah awal mula petualangan Allan yang penuh dengan kegilaan.

Tapi bukan berarti ini adalah petualangan pertama Allan. Sejak muda, Allan telah mengalami berbagai perjalanan yang seru dan menegangkan. Ia bahkan sering memainkan peran penting dalam berbagai peristiwa bersejarah di dunia. Petualangan Allan tersebut akan dikuak satu-persatu, berkaitan dengan petualangan yang baru dimulainya ini.

Review:

Buku ini udah jadi targetku untuk dibaca sejak lama, karena banyak menuai review bagus dan bahkan tanpa review-review itupun, judulnya kan sangat mengundang untuk dibaca, ya? Judulnya langsung menampilkan premis cerita menjanjikan. Pas bukunya diterjemahin ke bahasa Indonesia, aku langsung beli. Testimoni dari berbagain media dipampang di covernya. Dari sebelum baca aku udah mikir kalimat testimony-testimoni itu termasuk agak lebay sih. Salah satunya dari El Mundo (mungkin sejenis media cetak): “Fenomena internasional baru … penuh humor yang meluap-luap.” Aku langsung mbatin: “Lebayyy…” dengan muka lempeng -_-

Tapi dari awal ekspektasiku terhadap buku ini emang udah cukup tinggi, walaupun aku berusaha nggak meninggi-ninggikan karena takut kecewa. Bener aja, di bab-bab awal aku merasa buku ini nggak semenarik yang dijanjikan, walaupun cerita langsung to the point, nggak bertele-tele.

Waktu satu-persatu tokoh mulai diperkenalkan asal-usulnya, di situ baru mulai menarik. Cerita jadi makin seru pas mulai flashback ke petualangan masa muda Allan yang nggak terduga, penuh kebetulan, hebat, tapi juga gila. Tokoh Allan dimasukkan ke sejarah dunia sejak abad 20, karena memang ceritanya Allan terlibat dalam kejadian-kejadian di perang dunia (dengan peran yang berbeda-beda). Jadi dengan baca buku ini kita kayak baca buku sejarah dunia juga, khususnya pada masa perang dingin antara Amerika dan Uni Soviet. Kalo baca bagian-bagian politik di buku ini aku suka bingung juga (walaupun dulu di sekolah pelajaran favoritku Sejarah hahaha), jadi seringnya bagian itu nggak aku masukin ke otak, yang penting aku ngeh sama alurnya aja )

Testimoni di cover buku banyak yang bilang kalo buku ini lucu, ya. Secara keseluruhan buku ini emang lucu, si penulis mengkritik situasi perang-perangan dan politik dengan cara yang humoris. Beberapa moment bikin aku ketawa juga, sih. Tapi aku masih berpendapat kalo testimoni di covernya lebay, ah.

Allan menjalani hidup dengan motto : “Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apapun yang terjadi, pasti terjadi.” Motto hidup itu bisa dibilang membuat dirinya menjadi “Yes Man” (tonton filmnya deh kalo belum), yang nggak takut akan apapun dan kalem aja dalam menjalani hidup. Menurutku itu pelajaran inti dari buku ini. But Allan has nothing to lose karena literally dia emang nggak punya apapun yang bisa bikin dia kehilangan.

Overall, I give this book 3 stars out of 5 stars.

P.S. Aku nggak tau apakah segala printilan peristiwa sejarah yang ada di buku ini sesuai fakta atau nggak. Tapi kemungkinan pada dasarnya memang begitu yang terjadi di perang dunia.

P.P.S. Cerita tentang Indonesia yang jadi bagian cerita di buku ini bikin adekku (yang juga baca buku ini) kesel, tapi menurutku yaa, Indonesia kan emang gitu ya nggak sih… :|

Thursday, July 2, 2015

0 comments

Ngobrolin Buku (Juni 2015)

I’ve been on reading kick lately. After I finish a book, I crave to read another book. I haven’t felt this in a long time. And now I’m loving it. Makanya jadi agak lebih sering nge-review buku di sini. Hehe. Review-review ku tuh sebenernya uneg-uneg habis baca aja sih, tapi mudah-mudahan bermanfaat walaupun dikit.

Akhir-akhir ini lagi suka baca buku thriller dan jadi gak tertarik sama buku-buku dengan tokoh orang-orang biasa di sekeliling kita (beuhhh sombooong…). Pengennya baca cerita dramatis dengan tokoh utama yang pinter. Awalnya gara-gara kepengen baca novel The Devotion of Suspect nya Keigo Higashino tapi gak bisa (karena gak punya hehe), jadi aku baca The Girl with The Dragon Tattoo (TGwTD) nya Steig Larsson aja gara-gara katanya Keigo Higashino itu “the next Steig Larsson”. Untuk tahu itu bener apa nggak, berarti sebelum aku baca karya Higashino, aku harus baca karyanya Larsson dulu kan, ya :3


Aku juga sebenernya udah lama pengen baca series TGwTD. Now that I have read it, I LOVE it. Saking sukanya aku sampe gak bisa nge-review buku itu. I just can’t find the words :’) But now I actually can find (literally) some words about the book: Jenius. Beyond expectation. Haunting. Udah. Pokoknya setelah baca TGwTD aku syok dan masih kebayang-bayang sama ceritanya selama beberapa hari.

Abis ini Insyaallah aku bakal ngepost review buku The 100-Year Old Man Who Climbed Out Of The Window And Disappeared dan Sabtu Bersama Bapak. Tungguin, yaa ;))

Sekarang aku lagi baca The After-Dinner Mysteries (judul aslinya: Nazotoki wa Dinner na Ato de) karya Higashigawa Tokuya, sejenis cerita detektif dengan unsur komedinya. Nanti mau aku review jugaa ehehehe

Oiya kemaren aku ngepost sesuatu yang lain dari biasanya karena untuk pertama kalinya aku ikutan lomba nulis. I felt SOOO awkward writing that post hahahaha but I gotta try. Wismilak!

Skripsi gimana? TA 2 ku udah sampe bab 2 tapi kayaknya harus ada sedikit perubahan metode: dari metode AHP jadi metode Fuzzy AHP. Yang berarti: belajar dari jurnal lagiiiii :’’’’’’))))) Please wish me luck for this one too because I’m trying to graduate this year :’)

Ahh, I have nothing left to say now. Follow me on twitter for mundane updates of my craziness. And for all EXO-L readers, check out my tumblr because last month I made theseeeeee:


Thursday, June 25, 2015

0 comments

Book Review: Gone Girl


Gone Girl by Gillian Flynn
Genre: Fiction, Mystery, Thriller, Adult

Sinopsis:

Nick dituduh membunuh Amy, istrinya yang tiba-tiba hilang dengan cara yang mencurigakan di hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Nick mencoba segala cara untuk menemukan istrinya sekaligus membuktikan bahwa ia tidak bersalah.

Review:

Novel ini dibagi jadi 3 bagian besar: part 1, part 2, dan part 3. Tiap bab diceritakan dari sudut pandang Nick dan Amy, secara berganti-gantian di tiap bab nya.

Tanpa sadar aku dibawa ke arah yang macem-macem sama buku ini. Part 1 dari novel: murni thriller. Like, usual detective story. Di bab-bab awal aku udah dibikin penasaran banget, pengen cepet-cepet tau ending nya dan mencoba untuk nggak berpihak kepada satu tokohpun. Oh iya, Part 1 ini juga ngingetin aku sama film All About My Wife, yang bikin aku mengutuk dalam hati “Man, marriage IS hard work”.

Terus taunya di Part 2 kita dibawa ke arah yang sama sekali lain sampe aku dibuat lupa soal “marriage is hard” tadi itu. Di part ini aku malah mikir banyak soal angry feminists. Di saat kita ngerasa “Oh, oke, oke, kayaknya aku tahu kemana arah cerita ini.” sambil mikirin beberapa kemungkinan ending, ternyata arahnya belok lagi, menikung tajam.

Part 3 agak anti klimaks tapi kita tetap dijanjikan suatu klimaks yang memuaskan, jadi masih semangat baca. Tapi kemudian….aku dibikin geleng-geleng kepala sama Mbak Gillian Flynn ini. “Mbak Gillian.... Gilingan juga lu, ya.” (pun intended)

Sampe sekarang aku belum nonton filmnya. But when the movie was released, almost everyone in my twitter timeline freaked out about the ending. Jadi aku udah nyiapin mental dari awal: “Jangan percaya siapapun di novel ini, jangan nuduh siapapun, jangan terlalu kaget nanti pas di ending..” Hahahah. I remember someone on Twitter say something about Gone Girl containing the word: “manipulative”. Ya. Ya, itu kata kunci dari cerita ini.

Tapi tetep aja aku kaget dan kesel sama endingnya. Karena asumsiku sebelum baca, kalau banyak orang kesel dan kaget sama endingnya, kemungkinan endingnya adalah sesuatu yang grand, totally fucked up, pokoknya parah. Tapi ternyata endingnya sama sekali berkebalikan dengan asumsi itu, tapi sama parahnya atau malah lebih parah. Nah, lho, gimana tuh.

I had to take a moment after done reading it. Wrinkling my nose and forehead, screaming in my head: “Why, Gillian Flynn, why??!” Anyway, THIS is why.

Ugh.

I have to say that the whole story is brilliant. Rumit, tapi gak bikin aku sampe harus baca ulang beberapa bagian cerita. Bukunya juga tebel banget, rasanya nih buku lamaaa banget habisnya. Bukan karena ceritanya ngebosenin, mungkin aku cuma terlalu gak sabaran aja ya pengen tahu endingnya kayak gimana. Tapi emang cukup rumit skenarionya, layer per layer cerita dibuka satu-satu, disertai gambaran tekanan dan depresinya si tokoh.

After reading the book, I understand that: marriage IS hard, your parents has bigger impact on you than you realize, there are so many kinds of mental illness and (sorry) lots of them are scary if it doesn’t handled well and scarier when it’s not even detected.

I enjoyed it, though. 4,5 stars out of 5 stars.

“There's a difference between really loving someone and loving the idea of her.” 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...