Sunday, October 21, 2012

2 comments

Movie Review: The Art of Getting By (2011)


George (Freddy Highmore) mempercayai sebuah kutipan yang berbunyi: "You are born alone, die alone, and everything else is an illusion". Karena itu ia tidak peduli dengan kehidupannya, sekolahnya, atau pekerjaan rumahnya. Lalu ia bertemu Sally (Emma Roberts), gadis populer di sekolah yang membuatnya bersemangat untuk pergi sekolah dan berteman, walaupun George belum siap untuk mengaku bahwa ia menyukai Sally. Kepala Sekolah dan guru keseniannya mengenalkan George pada seorang alumni yang juga seorang pelukis sukses, Dustin (Michael Angarano), yang dapat membimbing George menentukan apa yang akan ia lakukan setelah lulus sekolah. Tapi masalah-masalah mulai bermunculan dalam hidup George dan membuatnya terdistraksi sehingga George kemungkinan tidak dapat lulus sekolah

Sinopsis di atas adalah terejmahan bebas dari IMDb dengan sedkit tambahan. Hehehehe..



It’s not a movie that will give you deep impression. Not that it’s not good. Filmnya bagus, ceritanya jelas, gampang dicerna dan tidak bertele-tele, tapi abis kita tonton, film ini bisa aja langsung terlupakan.

Yang paling aku suka dari film ini adalah karakter George. He’s uniqe, complicated, and sometimes annoying. But he’s actually a good person. Aku dan George punya beberapa persamaan juga, hehee. Makanya terasa relate pas nonton adegan dia. Selain itu aku juga suka sinematografinya deh. It’s not THAT amazing, tapi pas aja. Cahaya-cahaya yang dihasilkan pas, indah. Keindahaan yang sederhana. #eaaa hahaha


Yang aku nggak suka: Emma Roberts. I don’t know why she makes me so bored everytime she's in the scene. She’s pretty and all that, tapi karakter dan aktingnya hampir sama dengan yang aku tonton waktu dia di film Wild Child. Gayanya kayak 'the rebel girl next door' gitu. Bosen aja liatnya. Emang tokoh yang dia peranin kurang berkarakter atau aku yang nggak suka dengan karakter yang seperti itu atau aku aja yang ngerasa gini kali ya, entahlah :| Maybe it's just me.


Film ini menyampaikan spirit perubahan dan pencarian jati diri. Ada pesan keberanian, passion, dan komunikasi dengan keluarga. Bagus untuk ditonton oleh para anak SMA yang galau karena mau lulus. Hehee. Overall, pretty good :)

Daaann...lihat deh foto dibawah ini...

Lucu ya dua-duanyaaa... Gedenya ganteng. :3

Sunday, October 14, 2012

2 comments

Manga Review: The School Secret Agent

First time talking about comics here. Heheeee. I don't really like buying comics/manga because I think they're expensive. I mean, 17k IDR for maximum an hour reading?! I think it's not worthed :| #pelit. Waktu aku SD tuh ya, pas lagi sering-seringnya beli komik Chibi Maruko Chan (I was an avid collector of them back then), harga komik cuma 8.500 lhoo. Trus makin lama naik 500 demi 500 perak. Pas harganya udah diatas 10.000, I stopped buying them. Hehehe. #pelit #lagi

Aku lebih suka minjem komik ke temen atau rental komik (atau minjem ke temen yang minjem dari rental komik. hahaha *dadah-dadah ke Oja ;)*). But since we (me and Oja) got separated by college now, dan aku males ke rental komik sendirian, jadi sejak kuliah aku udah jarang baca komik, kecuali komik Hai, Miiko! yang dikoleksi sama adekku. Tapi kalo ada komik menarik yang nyelip di obral komik di toko buku, hampir dipastikan aku bakal langsung beli. *ini jadi dari tadi mengumbar kepelitan diri sendiri aja ya aku -_-*

Nah, sekarang aku akan memperkenalkan salah satu seri komik yang jadi 'my favorite of all time'. Dia adalah..............................................................."The School Secret Agent"!!! Atau judul jepangnya "Manabiya Sannin Kichisa". Ada yang pernah denger atau baca? Komik ini memang ga terkenal sepertinya, haha. Dan sampe masuk ke barisan yang diobral di toko buku gitu yaaa berartiii ..... (fill in the blank) Tapi  gak terkenal bukan berarti gak bagus, dan terkenal bukan jaminan bagus, jadi aku sukaaaaa sekali sama komik ini :3

The School Secret Agent
by Nanpei Yamada
(and yup, that's my bed sheets)

Pas awal beli rada gambling juga soalnya langsung beli seri ke 1, 2, dan 3. Tapi kan lagi obral jadi ya udahlah (FYI, beli 3 komik obral bisa dapet satu komik biasa lhoo). Ternyata ceritanya nagih! Komik ini ada 4 seri, tapi yang aku temuin cuma 3. Seri terakhirnya waktu itu belum nemu. Aku merasa digantung T-T. Jadi pas nemu seri keempatnya (di obralan juga. hahahah), tanpa pikir panjang langsung beli! Walaupun ga diobral juga kalo nemu pasti bakalan aku beli deh.

Soooo, what's so cool about this manga?
Ceritanya tentang agen rahasia di sebuah SMA Jepang, mereka disebut Sannin Kichisa. Agen rahasianya ini bukan yang ala-ala film Hollywood ya, tapi ala-ala Jepang. Hahaha gimane tuh? Yang paling khas adalah baju aksi mereka yang bernuansa Jepang. Trus rada-rada kayak ninja gitu gayanya, pake shuriken juga kadang (intermezzo fact: ninja itu aslinya emang agen rahasia jepang yang kerennn bangetttt :D). Nah, Sannin Kichisa ini diketuai oleh seorang pengurus sekolah dan berangotakan dua orang murid, cewek dan cowok. Untuk anggota murid, ada regenerasi, karena mereka gak mungkin ada di sekolah itu terus kaan...

Apa yang mereka lakukan? Tentunya membela kebenaran dan keadilan :D Kalau ada ketidakberesan di sekolah itu (misalnya, guru yang melakukan pelecehan seksual ke murid, misteri "hantu" disekolah, dll), mereka yang mengurusnya. Gerakan mereka independen dan nggak resmi. Jadi emang bikin sendiri aja (demi passion dalam membela kebenaran) dan guru-guru juga murid-murid di sekolah pun gak tau siapa mereka sebenarnya. Tapi mereka jadi idola dikalangan murid karena Sannin Kichisa biasanya lebih pro ke murid dan tentunya, karena mereka keren sekaliiiiii *.*


Di seri pertama kita harus menebak-nebak sendiri, sebenernya anggota Sannin Kichisa itu siapa yaaa... Semuanya terlihat mencurigakan. Haha. Oiya, nama-nama julukan untuk anggotanya diambil dari nama-nama penjahat di Kabuki, sejenis drama klasik di Jepang. Julukan mereka itu Oshou, Obou, dan Ojou.

Ada beberapa kejanggalan juga sebenernya dalam cerita komik ini (salah satunya, anggota Sannin Kichisa musti sering ke sekolah malam-malem karena pada saat itulah mereka meeting dan beraksi, tapi apa orang tuanya gak marah? -,-), tapi buat aku sih itu gak begitu mengganggu, karena minor banget kesan janggal yang tertangkap.

Kesan seru dan menegangkannya lebih banyak soalnya. Ada action, strategi, juga drama yang seru tapi nggak lebay. Komik ini genre nya bukan romance, jadi jangan berharap bakal ada cium-ciuman disini. Hahahahah. Genre nya lebih ke action comedy kali ya. Tapi ada juga tentang persahabatan, persaudaraan, gitu-gitu deh. Oiya, komik ini juga mengangkat tentang self esteem, dimana Yaaya, anak baru yang pemalu, menjadi lebih berani dan yakin dengan dirinya sendiri setelah menjadi anggota Sannin Kichisa. Jadi kayak pencarian jati diri gitu deh. Maybe it's cliche, but it happens around us (and to ourselves) kan?

Sayang banget cuma 4 seri..... :( Padahal bakalan seru banget kalo dilanjutin seenggaknya sampe seri belasan. But well, I still like it, tho. Recommended! :)

Sunday, October 7, 2012

1 comments

Movie Review: Dark Shadows (2012)

Tahun 1752, Barnabas Collins (Johnny Depp) dikutuk menjadi vampir lalu dikubur hidup-hidup di dalam peti oleh Angelique (Eva Green), penyihir yang cintanya ditolak oleh Barnabas. Dua ratus tahun kemudian, tepatnya tahun 1972, peti tempat Barnabas mendekam ditemukan pada suatu proyek penggalian dan ia terbangun. Ia kembali ke Collins Wood, rumah milik keluarganya, yang saat ini ditinggali oleh keturunan keluarga Collins. Bersama keluarga yang disfungsional itu Barnabas berusaha membangun kembali kejayaan keluarga Collins yang mulai runtuh karena cengkeraman perusahaan Angelique yang ternyata masih hidup.


Film ini khas Tim Burton banget. Film-film sutradara yang satu ini emang lekat dengan tema gothic dan fantasi. Yang pernah aku tonton itu baru Charlie and The Chocolate Factory (2005) dan Corpse Bride (2005). Selain itu ada juga Alice in The Wonderland (2010), Sweeney Todd (2007), dll. Yang udah pernah nonton paling nggak salah satu dari film-film tersebut pasti ngeh lah ya, ada sesuatu yang khas.

Jujur, sebenarnya ini film yang aneh dan creepy. Hahaha. Cukup banyak adegan-adegan yang bikin mengernyitkan dahi, aneh deh pokoknya. Dari segi cerita sih cukup wajar menurutku, kan kayak dongeng gitu. Tapi karakter-karakternya cukup manusiawi lah. Ada juga adegan yang kayak film horror gitu. Aku kan nonton ini sendirian ya, jadi tiba-tiba ngeri sendiri, soalnya aku kira kan yang creepy-creepy aja film nya (kalo diliat dari trailer nya sih), bukan yang ada hantu gitu (eh, bener kan hantu itu lebih ke scary daripada creepy? -,-)


Menurut aku salah satu yang menarik dari film ini adalah keturunan keluarga Collins yang disfungsional itu. Ada Elizabeth (Michelle Pfeiffer) dan anak remajanya yang cukup pemberontak, Carolyn (Chloe Moretz). Ada juga Roger, adiknya Elizabeth yang playboy padahal punya anak kecil, David, yang masih gak terima kalo ibunya meninggal. Selain itu dirumah itu juga tinggal psikiater nya David, Dr. Julia Hoffman (Helena Bonham Carter, yang hampir selalu ada di film-film nya Tim Burton, bini nya soalnya, haha. Untung akting nya bagus); guru barunya David, Victoria Winters; dan dua pembantu yang terdiri dari 'pemuda' ketus bernama Willie dan seorang nenek yang lucu :D


Aku tertarik sama keluarga-keluarga yang nggak biasa sih. Hehehe. Tingkah mereka suka aneh-aneh lucu gitu. Tapi masih lebih aneh si Barnabas, karena dia kan berasal dari 2 abad yang lalu ya, jadi perkataan dia suka jadul dan sopan banget, udah gitu dia suka ga ngerti sama hal-hal pada masa tahun 70an itu jadinya lucu juga :D Si Barnabas juga jatuh cinta sama Victoria, yang mirip sama pacarnya dulu yang dibunuh sama Angelique. Tapi menurutku chemistry mereka berdua kurang ditunjukin deh.

Dan si Barnabas ini walaupun nggak terlihat seperti orang baik, ternyata dia baik juga dan sayang banget sama keluarganya. Walaupun keluarga juauh banget ya (beda 200 tahun gitu... -_-"). Eh trus ya, ending nya itu mengingatkan aku sama Twilight Saga.... Hihihihi.


Aku nggak terlalu ngeh sama budaya dan nuansa tahun 70an, jadi nggak tau juga deh film ini menggambarkan tahun 70an dengan baik atau nggak. Tapi ada kelompok hippie gitu so I guess that's a bit of seventies nya lah yaa. Overall, gak jadi film favoritku tapi buat hiburan lumayan seru juga kok. Happy sunday ya semuanyaa! :D

Sunday, September 9, 2012

2 comments

Movie Vs Book: Perahu Kertas (2012)

Ini sebenernya tulisan yang aku buat hari senin minggu kemaren (sekarang hari minggu -_-). Tapi baru di-edit dan di-publish hari ini. Hehehe... Better late than never lah. Sayang udah nulis panjang-panjang. Enjoy..

***

Tadinya aku nggak terlalu tertarik untuk nonton film Perahu Kertas, justru lebih tertarik untuk baca novelnya aja, tapi belum kesampean terus. Tapi suatu hari aku baca artikel di koran tentang ciumannya Maudy Ayunda dan Reza Rahardian untuk suatu adegan di film ini. Truuuuus.....anehnya aku jadi penasaran. Bukan "ciuman"-nya yang jadi intinya yaa.. Tapi "Reza Rahardian"-nya. Hahaha. Akhirnya penasaran lah aku pengen nonton.

Pas nonton film ini, aku baru baca beberapa halaman awal novelnya. Abis nonton, aku langsung lanjutin baca, tapi molor sampe hampir seminggu baru selesai. Hehehehe... Now I finally decided to write a review about it because I just finished reading the book! Untuk sinopsis nya, daripada tulisan ini bertambah panjang, silahkan di googling aja yaa. Pasti pada bertebaran deh di internet. Hehehe..

***

The Movie

Jujur aja pas nonton film ini aku bingung sama ceritanya. Janggal dan keliatan banget disingkat-singkat. Terutama tentang hubungan Keenan dan Kugy. Bagaimana bisa mereka punya perasaan sedalam itu padahal baru ketemu......dua kali? At least harusnya ada cuplikan yang nunjukkin kalo mereka udah sering jalan bareng gitu. Begitu juga dengan hubungan persahabatan geng Pura-Pura Ninja (yang terdiri dari Keenan, Kugy, Noni, dan Eko), Keenan-Wanda, Keenan-Luhde, dan musuhannya Kugy-Noni. Nggak jelas banget apalagi buat yang belum baca novelnya.


Trus ini entah aku yang lemot apa gimana ya, di film tuh suka tau-tau adegan pindah ke suatu tempat, tapi penonton seolah harus menebak-nebak itu tempat apa. Misalnya pas di tempat kerja Kugy. Aku baru tau kalo itu advertising company setelah ada adegan Kugy ngutarain idenya pas rapat -_- Lagi-lagi kurang jelas dan keliatan dicepet-cepetin. Padahal udah dibagi jadi dua film lhooo.


Tapiiiiii, somehow pas nonton aku nggak terlalu mempermasalahkan itu sih. Baru abis baca novelnya aja jadi keliatan semua ketidakjelasannya. Hehehe. Mungkin karena pas nonton, aku ignore ketidaktahuan itu karena nanti aku bakalan baca novelnya, yang pasti jauh lebih jelas dan dalem daripada yang baru aku tonton. Dan juga mungkin karena sinematografi dan soundtrack nya bagus sekali ya, jadi aku cukup menikmati. Gambar-gambar di film ini indah semua menurutku, dan soundtrack-nya selalu pas dan mendukung adegan-adegan yang disajikan.

Film ini banyak dramanya, tapi juga diselipi adegan-adegan lucu. Ada beberapa hal yang beda dari buku, mungkin supaya tambah lucu dan semarak filmnya. Yang penting gak ngerusak jalan cerita sebenernya.


Nah, karena aku nonton filmnya dulu baru baca novelnya, otomatis aku baca sambil ngebayangin para pemain filmnya deh. Menurut aku hampir semua pemainnya pas untuk memainkan peran mereka. Maudy Ayunda as Kugy, ekspresinya sebagai Kugy itu dapet banget. Terus juga Sylvia Fully (Noni), Fauzan Smith (Eko), Tio Pakusadewo (Pak Wayan), Elyza Mulachela (Luhde), Dion Wiyoko (Ojos), Keluarga Keenan & Keluarga Kugy (kepanjangan kalo disebutin semua), dan Kimberly Ryder (Wanda). Tapi menurutku rambut Wanda di film harusnya bisa lebih bagus dari itu. Di film kadang rambutnya ada bagian yang frizzy jadinya keliatan kurang rapih. Gak demen liatnya -_- *ngapa jadi ngomongin rambut???*


Gimana dengan Adpati Dolken as Keenan? Hmm secara fisik sih Adipati Dolken cocok jadi Keenan. Tapi Keenan yang di film terlihat kuyu dan selalu sendu gitu. Hahaha. Kalo yang di novel kesannya sedikit lebih ceria padahal. Pas baca novelnya, aku malah ngebayangin Keenan itu badan dan rambutnya kayak Adipati, tapi mukanya kayak Eza Gionino. Nah loh. Aneh bukan... Hahahaha. Tokoh lain yang kurang pas adalah Karin, kakaknya Kugy nomor dua. Mustinya pembawaannya lebih centil dan dandanannya lebih fashionable lagi IMO.

***

The Book

Novel cetakan barunya sekarang pake poster filmnya sebagai cover. Kenapa nggak tetep dibikin original aja sihh? Heuuh -_-

Nah, sekarang novelnya yaa. Novel ini adalah karya Dewi Lestari pertama yang aku baca. Hehehehe. Katanya si lebih ringan dari Supernova, tapi lebih dalam dari teenlit. Dan menurutku emang lebih dalem dari teenlit kebanyakan. Tapi gak tau deh kaitannya sama Supernova, belum pernah baca soalnya. Haha.

Setelah baca, semua kebingunganku tentang cerita filmnya hilang sudah. Novel ini jelas sekali deskripsinya. Mulai dari setting tempat, suasana, 'sejarah hidup' para tokoh, perasaan masing-masing tokoh, semuanya diceritakan jelas dengan bahasa yang indah tapi nggak lebay. Konflik-konfliknya juga jadi jelas banget (nggak kayak pas nonton filmnya), terasa nyata, dan gak ada bagian-bagian yang nggak penting. Dialog-dialognya juga ringan dan dekat, terutama dialog antara anggota geng Pura-Pura Ninja dan juga interaksi di keluarga Kugy.

Udah gitu karakter-karakternya kuat. Semua karakter dideskripsikan begitu rupa sampai rasanya kita kenal dan ketemu langsung sama semua karakternya. Dan bisa aja gitu, kepikiran bikin karakter kayak Kugy, yang punya sejuta kebiasaan unik, pribadi yang one of a kind, dan nggak takut untuk menunjukkan hal itu.

Novel ini menginspirasi dan memberi semangat tentang mimpi dan cita-cita. Bukan cuma soal cinta-cintaan aja. Perahu Kertas is really not just another teenage love story. It's deep and complicated. Dan penuh dengan pesan untuk selalu mengikuti kata hati, jadi diri sendiri, moving on, dan mengejar mimpi.

***

Salah satu quote yang ngena dari novelnya adalah:

"Seluruh rongga tubuhnya seketika teraliri oleh hawa hangat. Rasanya utuh dan damai. Cuma satu orang yang mampu membuatnya seperti itu. Dan orang itu tak perlu melakukan apa-apa lagi selain hadir dan ada."

Mungkin.....itu definisi cinta? :)

P.S. Adipati Dolken kok mirip amat sama Pevita Pearce ya? Kayak sodara kembar...
P.P.S. Linda juga nge-review Perahu Kertas lho disini. Review nya lengkap banget! Anak ini kalo nge-review sesuatu selalu niat soalnya. Haha.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...