Saturday, July 4, 2015

1 comments

Book Review: The 100-Year Old Man Who Climbed Out Of The Window And Disappeared


'The 100-Year Old Man Who Climbed Out Of The Window And Disappeared' by Jonas Jonasson
Genre: Fiction, Humor

Sinopsis:

Allan Karlsson tiba-tiba kabur dari jendela kamarnya di panti jompo. Padahal satu jam lagi akan diadakan pesta ulang tahun dirinya yang ke-100. Walikota sudah bersiap hadir di pesta itu dan akan nada banyak wartawan yang meliput. Usaha kaburnya adalah awal mula petualangan Allan yang penuh dengan kegilaan.

Tapi bukan berarti ini adalah petualangan pertama Allan. Sejak muda, Allan telah mengalami berbagai perjalanan yang seru dan menegangkan. Ia bahkan sering memainkan peran penting dalam berbagai peristiwa bersejarah di dunia. Petualangan Allan tersebut akan dikuak satu-persatu, berkaitan dengan petualangan yang baru dimulainya ini.

Review:

Buku ini udah jadi targetku untuk dibaca sejak lama, karena banyak menuai review bagus dan bahkan tanpa review-review itupun, judulnya kan sangat mengundang untuk dibaca, ya? Judulnya langsung menampilkan premis cerita menjanjikan. Pas bukunya diterjemahin ke bahasa Indonesia, aku langsung beli. Testimoni dari berbagain media dipampang di covernya. Dari sebelum baca aku udah mikir kalimat testimony-testimoni itu termasuk agak lebay sih. Salah satunya dari El Mundo (mungkin sejenis media cetak): “Fenomena internasional baru … penuh humor yang meluap-luap.” Aku langsung mbatin: “Lebayyy…” dengan muka lempeng -_-

Tapi dari awal ekspektasiku terhadap buku ini emang udah cukup tinggi, walaupun aku berusaha nggak meninggi-ninggikan karena takut kecewa. Bener aja, di bab-bab awal aku merasa buku ini nggak semenarik yang dijanjikan, walaupun cerita langsung to the point, nggak bertele-tele.

Waktu satu-persatu tokoh mulai diperkenalkan asal-usulnya, di situ baru mulai menarik. Cerita jadi makin seru pas mulai flashback ke petualangan masa muda Allan yang nggak terduga, penuh kebetulan, hebat, tapi juga gila. Tokoh Allan dimasukkan ke sejarah dunia sejak abad 20, karena memang ceritanya Allan terlibat dalam kejadian-kejadian di perang dunia (dengan peran yang berbeda-beda). Jadi dengan baca buku ini kita kayak baca buku sejarah dunia juga, khususnya pada masa perang dingin antara Amerika dan Uni Soviet. Kalo baca bagian-bagian politik di buku ini aku suka bingung juga (walaupun dulu di sekolah pelajaran favoritku Sejarah hahaha), jadi seringnya bagian itu nggak aku masukin ke otak, yang penting aku ngeh sama alurnya aja )

Testimoni di cover buku banyak yang bilang kalo buku ini lucu, ya. Secara keseluruhan buku ini emang lucu, si penulis mengkritik situasi perang-perangan dan politik dengan cara yang humoris. Beberapa moment bikin aku ketawa juga, sih. Tapi aku masih berpendapat kalo testimoni di covernya lebay, ah.

Allan menjalani hidup dengan motto : “Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apapun yang terjadi, pasti terjadi.” Motto hidup itu bisa dibilang membuat dirinya menjadi “Yes Man” (tonton filmnya deh kalo belum), yang nggak takut akan apapun dan kalem aja dalam menjalani hidup. Menurutku itu pelajaran inti dari buku ini. But Allan has nothing to lose karena literally dia emang nggak punya apapun yang bisa bikin dia kehilangan.

Overall, I give this book 3 stars out of 5 stars.

P.S. Aku nggak tau apakah segala printilan peristiwa sejarah yang ada di buku ini sesuai fakta atau nggak. Tapi kemungkinan pada dasarnya memang begitu yang terjadi di perang dunia.

P.P.S. Cerita tentang Indonesia yang jadi bagian cerita di buku ini bikin adekku (yang juga baca buku ini) kesel, tapi menurutku yaa, Indonesia kan emang gitu ya nggak sih… :|

Thursday, July 2, 2015

0 comments

Ngobrolin Buku (Juni 2015)

I’ve been on reading kick lately. After I finish a book, I crave to read another book. I haven’t felt this in a long time. And now I’m loving it. Makanya jadi agak lebih sering nge-review buku di sini. Hehe. Review-review ku tuh sebenernya uneg-uneg habis baca aja sih, tapi mudah-mudahan bermanfaat walaupun dikit.

Akhir-akhir ini lagi suka baca buku thriller dan jadi gak tertarik sama buku-buku dengan tokoh orang-orang biasa di sekeliling kita (beuhhh sombooong…). Pengennya baca cerita dramatis dengan tokoh utama yang pinter. Awalnya gara-gara kepengen baca novel The Devotion of Suspect nya Keigo Higashino tapi gak bisa (karena gak punya hehe), jadi aku baca The Girl with The Dragon Tattoo (TGwTD) nya Steig Larsson aja gara-gara katanya Keigo Higashino itu “the next Steig Larsson”. Untuk tahu itu bener apa nggak, berarti sebelum aku baca karya Higashino, aku harus baca karyanya Larsson dulu kan, ya :3


Aku juga sebenernya udah lama pengen baca series TGwTD. Now that I have read it, I LOVE it. Saking sukanya aku sampe gak bisa nge-review buku itu. I just can’t find the words :’) But now I actually can find (literally) some words about the book: Jenius. Beyond expectation. Haunting. Udah. Pokoknya setelah baca TGwTD aku syok dan masih kebayang-bayang sama ceritanya selama beberapa hari.

Abis ini Insyaallah aku bakal ngepost review buku The 100-Year Old Man Who Climbed Out Of The Window And Disappeared dan Sabtu Bersama Bapak. Tungguin, yaa ;))

Sekarang aku lagi baca The After-Dinner Mysteries (judul aslinya: Nazotoki wa Dinner na Ato de) karya Higashigawa Tokuya, sejenis cerita detektif dengan unsur komedinya. Nanti mau aku review jugaa ehehehe

Oiya kemaren aku ngepost sesuatu yang lain dari biasanya karena untuk pertama kalinya aku ikutan lomba nulis. I felt SOOO awkward writing that post hahahaha but I gotta try. Wismilak!

Skripsi gimana? TA 2 ku udah sampe bab 2 tapi kayaknya harus ada sedikit perubahan metode: dari metode AHP jadi metode Fuzzy AHP. Yang berarti: belajar dari jurnal lagiiiii :’’’’’’))))) Please wish me luck for this one too because I’m trying to graduate this year :’)

Ahh, I have nothing left to say now. Follow me on twitter for mundane updates of my craziness. And for all EXO-L readers, check out my tumblr because last month I made theseeeeee:


Thursday, June 25, 2015

0 comments

Book Review: Gone Girl


Gone Girl by Gillian Flynn
Genre: Fiction, Mystery, Thriller, Adult

Sinopsis:

Nick dituduh membunuh Amy, istrinya yang tiba-tiba hilang dengan cara yang mencurigakan di hari ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Nick mencoba segala cara untuk menemukan istrinya sekaligus membuktikan bahwa ia tidak bersalah.

Review:

Novel ini dibagi jadi 3 bagian besar: part 1, part 2, dan part 3. Tiap bab diceritakan dari sudut pandang Nick dan Amy, secara berganti-gantian di tiap bab nya.

Tanpa sadar aku dibawa ke arah yang macem-macem sama buku ini. Part 1 dari novel: murni thriller. Like, usual detective story. Di bab-bab awal aku udah dibikin penasaran banget, pengen cepet-cepet tau ending nya dan mencoba untuk nggak berpihak kepada satu tokohpun. Oh iya, Part 1 ini juga ngingetin aku sama film All About My Wife, yang bikin aku mengutuk dalam hati “Man, marriage IS hard work”.

Terus taunya di Part 2 kita dibawa ke arah yang sama sekali lain sampe aku dibuat lupa soal “marriage is hard” tadi itu. Di part ini aku malah mikir banyak soal angry feminists. Di saat kita ngerasa “Oh, oke, oke, kayaknya aku tahu kemana arah cerita ini.” sambil mikirin beberapa kemungkinan ending, ternyata arahnya belok lagi, menikung tajam.

Part 3 agak anti klimaks tapi kita tetap dijanjikan suatu klimaks yang memuaskan, jadi masih semangat baca. Tapi kemudian….aku dibikin geleng-geleng kepala sama Mbak Gillian Flynn ini. “Mbak Gillian.... Gilingan juga lu, ya.” (pun intended)

Sampe sekarang aku belum nonton filmnya. But when the movie was released, almost everyone in my twitter timeline freaked out about the ending. Jadi aku udah nyiapin mental dari awal: “Jangan percaya siapapun di novel ini, jangan nuduh siapapun, jangan terlalu kaget nanti pas di ending..” Hahahah. I remember someone on Twitter say something about Gone Girl containing the word: “manipulative”. Ya. Ya, itu kata kunci dari cerita ini.

Tapi tetep aja aku kaget dan kesel sama endingnya. Karena asumsiku sebelum baca, kalau banyak orang kesel dan kaget sama endingnya, kemungkinan endingnya adalah sesuatu yang grand, totally fucked up, pokoknya parah. Tapi ternyata endingnya sama sekali berkebalikan dengan asumsi itu, tapi sama parahnya atau malah lebih parah. Nah, lho, gimana tuh.

I had to take a moment after done reading it. Wrinkling my nose and forehead, screaming in my head: “Why, Gillian Flynn, why??!” Anyway, THIS is why.

Ugh.

I have to say that the whole story is brilliant. Rumit, tapi gak bikin aku sampe harus baca ulang beberapa bagian cerita. Bukunya juga tebel banget, rasanya nih buku lamaaa banget habisnya. Bukan karena ceritanya ngebosenin, mungkin aku cuma terlalu gak sabaran aja ya pengen tahu endingnya kayak gimana. Tapi emang cukup rumit skenarionya, layer per layer cerita dibuka satu-satu, disertai gambaran tekanan dan depresinya si tokoh.

After reading the book, I understand that: marriage IS hard, your parents has bigger impact on you than you realize, there are so many kinds of mental illness and (sorry) lots of them are scary if it doesn’t handled well and scarier when it’s not even detected.

I enjoyed it, though. 4,5 stars out of 5 stars.

“There's a difference between really loving someone and loving the idea of her.” 

Monday, June 22, 2015

0 comments

Book Review: An Abundance Of Katherines


Judul: An Abundance Of Katherines
Penulis: John Green
Genre: Young Adult, Contemporary

Menceritakan tentang Colin Singleton, anak prodigy yang sedang patah hati karena baru putus dengan pacarnya, Katherine XIX (ke-19). Kenapa ke-19? Karena ke-18 pacar Colin sebelumnya juga semuanya bernama Katherine. Entah ada apa antara Colin dengan nama “Katherine”.

Hassan, sahabat Colin satu-satunya, nggak tega melihat sahabatnya depresi. Ia mengajak  Colin untuk pergi road trip dengan harapan Colin melupakan kesedihannya. Ternyata mereka malah terdampar di kota kecil Gutshot, Tennessee, di mana Colin menemukan Eureka moment yang selama ini dicarinya.

Review:

Oke, pertama: Motivasi dimulainya cerita menurutku agak dipaksakan. Cerita dimulai saat mereka mulai road trip, kan, tapi motivasi untuk road trip itu kok agak maksa dan menye-menye banget yah. Emang sih si Colin ini orangnya menye-menye, mungkin karena itu buatku jadi ngeselin kok kayak gitu aja ujug-ujug road trip. Bukan berarti road trip gak boleh spontan, tapi terkesan terlalu tiba-tiba aja awal ceritanya. This “Katherine” thing juga cukup maksa sih, si Colin seolah jadi fetish sama nama Katherine. Padahal sih bukan gitu.

Kedua: Tokoh utama kurang likable (Mungkin karena dia prodigy? Jadi aku yang anak biasa-biasa ini jarang bisa relate sama apa yang dia pikir dan rasakan?), begitu juga tokoh pembantu, Hassan, yang seharusnya lucu (memang kadang-kadang suka lucu sih..) tapi di awal dia langsung sok asik banget dan membikin aku jadi: -_- Tokoh paling likable adalah Lindsey.

Ketiga: Penyebab mereka jadi lama di Gutshot itu menurutku juga agak maksa. Mungkin ini gara-gara kurang pendalaman karakter Hollis, ya. Mungkin. Terus ekspektasiku cerita bakalan berlatar di berbagai tempat karena awalnya kan mereka road trip tanpa tujuan. Tapi ternyata 90% cerita malah berlatar di Gutshot, alias mereka nggak kemana-mana (tenang, ini bukan spoiler).  Jadi agak beda aja sama ekspektasi.

Keempat: Uniknya buku ini, di sepanjang buku ada puluhan catatan kaki, mengenai info yang penting sampai nggak penting. Bagi yang nggak familiar dengan agama Islam, catatan kaki ini bisa jadi penting karena cukup banyak istilah Islam dan bahasa Arab yang diucapkan Hassan. Unik, karena aku belum pernah baca buku yang punya catatan kaki sebanyak ini, dan rasanya jadi kayak nonton film versi director commentary, cuma ini jadinya writer’s commentary.

Kelima: Mungkin kalo kamu suka matematika, novel ini akan lebih menarik buatmu, karena Colin is a nerd, he does math. There are maths in this book, I’m not kidding. Buat seseorang yang gak suka matematika sepertiku, it’s like: “Yaampun apaan sih nih itung-itungan, ga ngerti.” Di awal-awal buku aku bacain tuh hitungan-hitungannya, tapi kemudian si penulis nyempilin pesan bahwa matematika di buku ini opsional untuk dibaca, kamu gak harus ngerti itu untuk ngerti ceritanya. Alhasil aku skip semua bagian itu hahahahah

Oke, itu aja. Sebelum baca ini aku udah denger-denger bahwa banyak yang bilang kalo novel ini novel terburuknya John Green diantara semua novelnya. Bukan berarti  novel ini jelek, tapi kalau dibandingkan sama novel-novel dia yang lain mungkin iya. Makanya dari awal ekspektasiku nggak tinggi. Sekarang aku belum bisa bilang apakah itu bener atau nggak, karena novelnya yang sudah aku baca itu baru: TFiOS, Paper Towns, dan Looking For Alaska. Untuk saat ini novel ini ada diurutan bawah. Urutan paling atas masih: TFiOS.

Kesimpulannya, novel ini layak baca kok, tapi jangan berekspektasi tinggi. Mungkin kalau kamu baru putus, atau kamu anak prodigy, atau kamu suka cerita tentang anak-anak pinter, atau kamu suka matematika, kamu bakalan suka buku ini. I give this book 2 stars out of 5 stars.

Bonus: I imagine Colin Singleton as Robert Sheehan as Simon in The Mortal Instruments. Simply because: glasses and curly hair. Haha.


“If people could see me the way I see myself - if they could live in my memories - would anyone love me?” - Lindsey Lee Wells
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...