Friday, January 25, 2013

(Short) Book Review: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah - Tere Liye


Baru aja selesai baca ini. Hehehe. Ceritanya tentang cinta pertama Borno, "bujang berhati paling lurus" yang tinggal di pinggir Sungai Kapuas sebagai pengemudi sepit (sejenis perahu kecil untuk penumpang, kalo di Palembang mungkin namanya ketek kali yaa).

Ini buku kedua Tere Liye yang aku baca (yang pertama aku baca adalah Rembulan Tenggelam di Wajahmu). Ceritanya ringan tapi tetap dalam. Aku suka sekali gaya menulis Tere Liye ini, gak terasa ganjil atau dibuat-buat. Banyak kata-kata indah yang nggak norak, banyak kalimat yang quotable, dan ada aja humor lucu yang nyelip-nyelip. Romantisnya juga nggak berlebihan, sederhana, wajar, walaupun kadang sedikit bodoh tingkah para karakternya, tapi manusia itu memang begitu kan? Apalagi waktu lagi jatuh cinta. Hehehe.

Yang aku kurang sreg adalah ending nya yang menurutku agak anti-klimaks. Selain akar masalah yang ternyata adalah "itu" (Aku kira bakalan lebih dari itu masalahnya. *spoiler alert* Karena menurutku past is past, dan juga sebenernya si Mei bisa tinggal nyuruh Borno ngebuka angpau yang dulu itu kan, daripada kucing-kucingan selama berminggu-minggu sama Borno *spoiler ends*), aku sih ngarep bakal dipanjangin sedikit akhir ceritanya, bukan cuma dirangkum dalam satu epilog. Kan jadi kurang greget gitu... :|

Yaa, terlepas dari ending nya yang agak meleset dari harapan, aku senang dan sangat menikmati membaca novel ini. Bikin penasaran, termangu-mangu sedih, dan senyum-senyum sendiri :'D Novel ini ceritanya juga bukan soal cinta aja. Semangat dan kebaikan hati Borno, petuah-petuah Pak Tua, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada orang-orang terdekat Borno juga menginspirasi dan ngasih pelajaran hidup. Sebenernya aku juga berharap kisah orang-orang terdekat Borno lebih diceritakan sih, bukan sekedar jadi tempat keluh kesah Borno aja. Apalagi Pak Tua. Penasaran banget aku sama masa lalu nya, gimana dia bisa jadi hebat seperti itu. Kepo yah aku... Hahaha. Tapi bener deh, karakternya itu menarik sekali.

Mungkin ini yang namanya "sepit" di novel ini ya?

Beberapa kutipan/quote favorit:

"Masa muda adalah masa ketika kita bisa berlari secepat mungkin, merasakan perasaan sedalam mungkin tanpa perlu khawatir jadi masalah"

"Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong."

"Percayalah, sepanjang kita punya mimpi, punya rencana, walau kecil tapi masuk akal, tidak boleh sekalipun rasa sedih, rasa tidak berguna itu datag mengganggu pikiran."

"Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu."

P.S. Terima kasih kepada saudara Linda 005 yang sudah meminjamkan buku ini. Hahaha :p

2 comments:

Linda Zunialvi said... [Reply to comment]

Endingnya memang kurang sreg, Nov. Itu kan aslinya bukan begitu. Banyak halaman yg dipotong, kata Bang Tere. Harusnya tuh buku ada seribuan halaman. *bengek*

dikut andinata said... [Reply to comment]

hahaha saya malah baru baca dua minggu kemarin, itu juga setelah baca novel Pulang. dan baru ane review. tolong mampir review Kau, Aku dan Sepucuk angpao merah tulisan saya ya kak http://www.bahasbuku.com/2015/11/review-kau-aku-dan-sepucuk-angpao-merah-tere-liye/

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...